Pemuridan Keluarga

Saat Ibu Yuni Berubah, Hubungan dengan Suami dan Anak Ikut Dipulihkan

Saat Ibu Yuni Berubah, Hubungan dengan Suami dan Anak Ikut Dipulihkan

Sri Wahyuni, atau yang akrab disapa Ibu Yuni, pernah merasa bahwa persoalan dalam keluarganya banyak berasal dari sikap anak dan suaminya. Anak keduanya dianggap lebih sulit diatur dibandingkan sang kakak, sementara suaminya dinilai kurang terlibat dalam keluarga. Namun setelah mengikuti The Parenting Project, Ibu Yuni justru menemukan bahwa perubahan dalam keluarga perlu dimulai dari dirinya sendiri.

BACA JUGA: Ketika Ibu Maria Belajar Mengasuh dengan Kasih, Bukan Sekadar Aturan

Sebagai ibu dari dua anak, Ibu Yuni melihat karakter keduanya sangat berbeda. Anak pertamanya yang laki-laki lebih mudah diarahkan, sedangkan anak keduanya yang masih duduk di TK besar membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Tanpa disadari, perbedaan tersebut membuat Ibu Yuni sering membandingkan kedua anaknya.

“Dulu memang saya suka membandingkan anak yang pertama, karena anak yang pertama itu gampang banget diatur walaupun cowok. Terus anak yang kedua itu cewek, tapi susah diatur. Saya sering bilang, ‘Kakakmu kalau diatur gini-gini nurut, kamu enggak.’”

Kebiasaan membandingkan anak itu kemudian menjadi salah satu hal yang mulai ia koreksi setelah belajar tentang pola asuh anak melalui The Parenting Project.

Bukan Hanya Anak yang Menjadi Pergumulan

Di tengah pergumulannya sebagai orang tua, Ibu Yuni juga menghadapi tantangan dalam hubungan suami istri. Menurutnya, sang suami cenderung kurang terlibat dalam keluarga. Ketika sedang merantau, suaminya bahkan jarang menghubungi istri dan anak-anak jika tidak lebih dahulu dicari.

Situasi tersebut sering membuat Ibu Yuni kecewa. Ketika apa yang ia harapkan dari suaminya tidak terpenuhi, ia memilih ngambek dan menunggu suaminya meminta maaf terlebih dahulu.

Akibatnya, pertengkaran dan perselisihan cukup sering terjadi dalam rumah tangga mereka. Namun semuanya mulai berubah ketika Ibu Yuni mengikuti The Parenting Project.

Meski saat itu suaminya sedang merantau dan tidak mengikuti program tersebut secara langsung, Ibu Yuni tetap menyelesaikan Modul 1 hingga 7.

Dari sana, ia mulai menyadari bahwa membangun keluarga tidak cukup dengan menuntut anak atau pasangan berubah. Ia sendiri juga perlu belajar mengoreksi sikapnya.

Belajar Mengubah Pola Asuh Anak

Salah satu perubahan pertama yang dilakukan Ibu Yuni adalah berhenti membandingkan kedua anaknya. Ia mulai memahami bahwa setiap anak memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, ia berusaha membimbing anak dengan kata-kata yang lebih baik dan menunjukkan kasih tanpa menjadikan saudara mereka sebagai pembanding.

Perubahan pola asuh tersebut perlahan mulai menunjukkan hasil. Meski anak keduanya belum selalu langsung menurut, Ibu Yuni melihat sang anak mulai memahami perasaan ibunya.

“Sekarang dia sudah memiliki pemikiran seperti ini, ‘Nanti aku enggak nurut sama Ibu, nanti Ibu sedih.’ Dia sudah berubah.”

Bagi Ibu Yuni, perubahan kecil seperti ini menjadi tanda bahwa pendekatan orang tua kepada anak ternyata dapat memberikan dampak besar.

BACA JUGA: Sering Bentak Anak, Ibu Karisah Menangis Setelah Belajar Cara Parenting yang Benar

Hubungan dengan Suami Juga Mulai Berubah

Pelajaran dari The Parenting Project tidak hanya memengaruhi cara Ibu Yuni mengasuh anak, tetapi juga caranya memperlakukan suami. Jika sebelumnya ia memilih ngambek sampai suaminya meminta maaf terlebih dahulu, kini ia belajar mengambil langkah untuk mengampuni.

“Saya berusaha memaafkan dulu lah, karena dia mau maafkan saya kok, saya kok enggak mau maafkan suami saya.”

Ibu Yuni juga mulai membagikan materi yang ia pelajari kepada suaminya melalui percakapan sehari-hari, termasuk tentang peran ayah dalam keluarga dan pentingnya menjadi teladan bagi anak.

Salah satu hal yang mereka bicarakan adalah kebiasaan merokok sang suami. Ibu Yuni mengingatkan bahwa anak laki-laki mereka semakin besar dan dapat meniru apa yang dilakukan ayahnya.

Menurut Ibu Yuni, sang suami kemudian berhenti merokok. Ia juga melihat suaminya mulai menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap keluarga. Jika dahulu sang suami jarang memberi kabar ketika merantau, kini ia mulai menyediakan waktu untuk menghubungi istri dan anak-anak.

“Dulu kalau merantau, kalau enggak dihubungi sama saya atau sama anaknya, dia itu acuh tak acuh. Tapi sekarang puji Tuhan, dia berusaha meluangkan waktunya untuk kasih kabar ke keluarganya.”

Bahkan anak-anak mereka sempat merasa heran melihat ayahnya tiba-tiba lebih sering menghubungi dan menunjukkan perhatian.

Saat Satu Orang Berubah, Keluarga Ikut Merasakan Dampaknya

Perubahan yang terjadi mungkin tidak berlangsung dalam sekejap. Namun Ibu Yuni mulai merasakan suasana keluarga mereka berbeda. Pertengkaran antara dirinya dan suami semakin jarang terjadi.

“Sekarang jarang sekali berantem, jarang sekali perselisihan di antara kami.”

Anak-anak juga mulai merasakan perubahan cara ayah dan ibu mereka membangun hubungan di rumah. Bagi Ibu Yuni, pengalaman mengikuti The Parenting Project bukan sekadar belajar tentang parenting. Ia justru belajar melihat kembali dirinya sebagai istri dan orang tua.

“Sangat bermanfaat sekali. Di situ kita bisa belajar sifat-sifat kita yang salah, kita bisa mengoreksi, sehingga melalui pelajaran itu kita bisa diingatkan dan kita boleh berubah.”

Kisah Ibu Yuni menunjukkan bahwa pemulihan keluarga terkadang dimulai dari satu orang yang bersedia belajar dan berubah terlebih dahulu. Ketika ia berhenti hanya melihat kesalahan pasangan dan anak, lalu mulai memperbaiki caranya mengasihi, memaafkan, dan mendidik, hubungan dalam keluarganya pun perlahan ikut dipulihkan.

Jika Anda juga rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project — program yang akan membekali Anda untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.

Informasi lebih lanjut: www.theparentingproject.id atau hubungi via WhatsApp di 0811-1011-6556. Kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.