Pemuridan Anak

Layar Tancap Perdana di Manokwari Diikuti Lebih dari 100 Anak, Seru Seperti Nonton Bola!

Layar Tancap Perdana di Manokwari Diikuti Lebih dari 100 Anak, Seru Seperti Nonton Bola!

Tidak ada yang menyangka malam itu akan menjadi malam yang luar biasa.

Ibu Stevanda Ince Luturmas, salah satu guru sekolah minggu di Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) Makarismos, Manokwari, Papua Barat — mengakui bahwa persiapan Layar Tancap Superbook perdana itu benar-benar mendadak. Rencananya, kegiatan ini ingin digelar tepat pada Hari Anak Nasional, 23 Juli 2026. Namun karena jadwal yang kejar-kejaran dengan dimulainya program School of Life (SOL), tanggalnya dimajukan menjadi 22 Juli.

"Mendadak sekali, Kak. Karena mau Jumatnya waktu itu kita harus sudah mulai SOL, jadi kayak kejar-kejaran gitu," cerita Ibu Stevanda. Di balik persiapan yang mepet itu, ada keraguan yang diam-diam menyelinap di hati para pelayan. Apakah acaranya akan berjalan lancar? Apakah anak-anak akan datang?

Undangan 100, yang Datang Lebih dari Itu

Sore itu, di bawah kanopi halaman gereja, layar sudah terpasang. Undangan sudah disebar ke 100 orang. Para guru memperkirakan mungkin hanya separuh yang akan hadir — itu pun sudah dianggap bagus untuk acara perdana.

Tapi Tuhan punya rencana yang berbeda.

"Kita kasih undangan 100 — tapi yang datang lebih dari 100. Di luar dugaan," ungkap Ibu Stevanda. Yang lebih mengejutkan, sebagian besar yang hadir bukan anak-anak sekolah minggu GPKAI sendiri, melainkan anak-anak dari lingkungan sekitar gereja yang selama ini belum pernah mengenal Superbook sama sekali. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak dari keluarga Kristen di lingkungan gereja — anak-anak yang oleh para pelayan GPKAI sudah lama didoakan setiap harinya.

Dan lingkungan itu bukan lingkungan yang mudah. "Di lingkungan gereja ini banyak orang mabuk, banyak yang terjadi kekerasan. Mereka termasuk anak-anak yang rentan. Kami dari jemaat hampir setiap hari berdoa untuk anak-anak yang ada di lingkungan sini," tutur Ibu Stevanda dengan penuh beban hati yang tulus. Maka ketika anak-anak itu datang satu per satu memenuhi halaman gereja, air mata syukur itu sulit ditahan.

Baca Juga: Dulu Suka Balas Memukul Teman, Sampai Akhirnya Oziel Belajar Mengampuni dari Kisah Yusuf

Layar Tancap Seru Seperti Nonton Bola

Malam itu, kisah Superbook yang ditayangkan adalah episode tentang Penciptaan — mulai dari Adam dan Hawa, hingga kematian dan kebangkitan. Petualangan Chris, Joy, dan Gizmo membawa cerita Alkitab menjadi hidup dan nyata di hadapan puluhan pasang mata anak-anak Papua.

Dan reaksi mereka? Tidak ada yang bisa menduga.

"Seru kayak orang nonton bola, Kak. Anak-anak bisa teriak di saat Malaikat Tuhan mengalahkan si Iblis — anak-anak histeris, kayak ada suatu kemenangan," cerita Ibu Stevanda dengan penuh sukacita. "Kita kayak kalah sama anak-anak yang nonton bola."

Di saat yang sama, kisah Alkitab yang selama ini mungkin hanya didengar lewat cerita biasa, kini hadir dalam animasi yang memukau — dan para anak menyerapnya dengan seluruh perasaan mereka.

Baca Juga: Sempat Minder Karena Merasa Berbeda, Eudicia Belajar Berani dari Kisah Daud

Deklarasi Iman yang Sungguh-Sungguh

Setelah film selesai, Pak Gembala mengajak seluruh anak berdiri. Satu per satu mereka memejamkan mata. Lalu bersama-sama, mereka mengucapkan deklarasi iman.

"Anak-anak semuanya tutup mata — dan dengan ekspresi mereka, walaupun mungkin saya tidak lihat ada air mata yang keluar, tapi kayak mereka dengan sungguh-sungguh mengucapkan deklarasi iman itu," ungkap Ibu Stevanda. Sebuah momen yang diam namun penuh kuasa.

Dan dampaknya tidak berhenti di situ. Banyak anak yang bahkan tidak tahu tentang SOL, setelah malam itu langsung mendaftar untuk bergabung. "Kita tidak umumin di situ — tapi mereka tertarik dan daftar sendiri," ceritanya. Dan pertanyaan yang paling sering didengar Ibu Stevanda setelah Layar Tancap itu selesai? "Kak, kapan layar tancap lagi? Kak, kapan ada layar tancap lagi?"

Superbook Menjadi Alat yang Mempermudah dan Mengubah

Bagi Ibu Stevanda sendiri, Superbook bukan hanya berdampak bagi anak-anak — tetapi juga bagi para guru yang melayani. "Setelah Superbook ada di sekolah minggu, itu lebih mempermudah. Kita nggak perlu lagi bingung cari cerita apa — ceritanya sudah ada, tinggal nonton," tuturnya. Kurikulum yang terstruktur membuat para guru bisa fokus pada pendampingan, bukan lagi sibuk menyiapkan materi dari nol.

Dan harapan Ibu Stevanda sederhana namun dalam: "Saya berharap anak-anak semakin mudah mengerti tentang kebenaran Firman Tuhan. Mereka lebih semangat — karena ada Superbook."

Layar Tancap bukan sekadar hiburan malam. Di halaman gereja yang sederhana di Manokwari itu, benih Firman Tuhan ditaburkan — dan lebih dari 100 anak pulang dengan satu pelajaran yang akan mereka ingat.